Banner BlogPartner Backlink.co.id

Saat memulai usaha, rasanya menyenangkan sekali ketika akhirnya punya produk sendiri.

Tapi setelah jalan beberapa waktu, muncul kenyataan yang tidak bisa dihindari. Ternyata produk serupa sudah banyak sekali di pasaran. Bahkan, ada yang harganya lebih murah, kemasan lebih bagus, atau promosi lebih ramai.

Kamu mungkin sempat bertanya dalam hati, “Lah, terus usahaku gimana?”

Tenang dulu. Bukan kamu saja kok yang merasakan hal itu.

Persaingan adalah hal yang wajar dalam dunia bisnis. Justru kalau banyak pemainnya, tandanya pasar memang ada.

Yang penting bukan panik, tapi bagaimana menghadapi persaingan dengan cara yang lebih cerdas.

Berikut 4 tips yang bisa kamu praktikkan untuk tetap bertahan meski produkmu punya banyak “kembaran” di luar sana.

1. Kenali Kelebihan dan Kelemahan Produk Sendiri

Sebelum melihat pesaing, justru kamu perlu melihat lebih dalam ke produkmu sendiri dahulu.

Banyak pelaku UMKM yang sibuk membandingkan diri dengan kompetitor, tetapi belum benar-benar paham apa yang menjadi keunggulan mereka.

Coba jujur menjawab beberapa pertanyaan ini:

  1. Apa yang membuat produkmu berbeda?
  2. Bagian mana yang masih perlu diperbaiki?
  3. Kalau kamu jadi pembeli, apa alasan memilih produkmu?

Keunggulan itu tidak selalu harus “heboh”. Bisa saja rasanya lebih konsisten, pelayanan lebih ramah, ataupun pengiriman lebih cepat. Bisa juga menyasar segmen tertentu, misalnya anak kos atau ibu bekerja.

Sebaliknya, kelemahan juga penting dikenali. Misalnya, kemasan masih sederhana, media sosial belum aktif, serta belum terdaftar di marketplace.

Dengan tahu dua sisi ini, kamu akan lebih mudah menyusun strategi.

Bukan cuma meniru pesaing, melainkan membangun identitas usahamu sendiri. Ini yang nantinya membuat pelanggan bertahan. Percaya, deh!

2. Jangan Bersaing Harga, Tapi Bangun Nilai Tambah

Saat melihat pesaing menjual produk serupa dengan harga yang lebih murah, refleks pertama biasanya, “Turunin harga juga, deh.”

Yakin, deh, perang harga itu melelahkan dan berbahaya. Ujung-ujungnya margin makin tipis. Bisnis sih jalan, tapi keuntungan hampir tidak terasa.

Sayang sekali, bukan?

Sebaliknya, cobalah fokus pada nilai tambah atau added-value.

Bisa mulai dari kemasan yang lebih rapi dan aman atau layanan after-sales, seperti garansi dan konsultasi gratis. Boleh coba juga memberikan bonus kecil dalam bentuk kartu ucapan atau stiker.

Pembeli tidak selalu mencari yang paling murah. Banyak orang rela membayar sedikit lebih tinggi asal merasa nyaman dan dihargai. Kamu sendiri mungkin pernah begitu, kan?

3. Bangun Kedekatan, Bukan Sekadar Transaksi

Di tengah persaingan produk serupa, hubungan dengan pelanggan sering menjadi pembeda utama. Produk boleh mirip, tapi pengalaman yang dirasakan pelanggan bisa sangat berbeda.

Di sinilah kamu punya peluang yang besar.

Beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan, di antaranya:

  1. Sapa pelanggan dengan nama.
  2. Tanyakan pengalaman mereka setelah memakai produk.
  3. Respons komplain dengan tenang, bukan defensif.
  4. Ceritakan proses produksi di media sosial.

Kadang, pelanggan bertahan bukan hanya karena produknya, tetapi karena merasa “nyambung” dengan pemilik usaha.

Mereka melihat ada orang nyata di balik produk.

4. Beradaptasi, Tapi Jangan Kehilangan Jati Diri

Dunia bisnis bergerak cepat. Hari ini tren A, besok bisa bergeser ke B.

Kamu tentu perlu beradaptasi. Entah mengikuti selera pasar, memperbaiki tampilan produk, atau mencoba cara promosi baru. Hanya saja, pastikan satu hal, jangan sampai kehilangan identitas produkmu sendiri.

Contohnya, tetap mempertahankan rasa khas meski kemasan berubah, memegang kualitas bahan walau biaya naik, serta menjaga nilai kejujuran dalam promosi.

Adaptasi itu perlu, tapi bukan berarti harus “copy paste” dari pesaing. Justru dengan identitas yang jelas, produkmu akan diingat.

Kalau kamu konsisten, lambat laun akan muncul pelanggan yang bilang, “Aku maunya yang ini saja, sudah cocok.” Rasanya menyenangkan sekali kalau sampai di titik itu.

Jangan Takut Bersaing

Persaingan produk serupa memang kerap kali bikin lelah dan minder. Wajar, kok. Tapi bukan berarti kamu harus berhenti.

Dengan mengenali kelebihan produkmu, menambah nilai, membangun kedekatan dengan pelanggan, dan tetap adaptif, usaha yang kamu jalankan bisa terus berkembang. Pelan-pelan tidak masalah, yang penting jalan.

Kalau kamu ingin membaca lebih banyak artikel tentang bisnis, strategi usaha, marketing, dan UMKM, mampir saja ke listen-project.org.

Temukan beragam pembahasan dengan bahasa yang ringan dan praktis. Siapa tahu, ada ide yang pas dengan kondisi usahamu sekarang.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *