Banyak orang tertarik investasi karena melihat cerita sukses. Katanya ada yang bisa beli rumah, sebagaian lagi bebas kerja kantoran, bahkan ada juga yang bangga bilang “uangku sekarang kerja sendiri”.
Kedengarannya, sih menyenangkan.
Tapi di balik semua cerita indah itu, ada sisi yang sering luput dari perhatian. Terlebih bagi investor pemula. Ialah risiko!
Yang jadi masalah, saat pertama kali terjun ke dunia investasi, banyak orang terlalu fokus pada potensi cuan.
Belum masuk, sudah terlanjur hitung-hitungan return. Eh, lupa bahwa investasi itu selalu datang berpasangan dengan risiko.
Bukan mau nakut-nakutin, tapi lebih baik tahu sejak awal daripada kaget di belakang, iya nggak?
Berikut 6 risiko investasi yang sering banget diabaikan oleh pemula.
Padahal kalau dipahami sejak awal, bisa membantu kamu mengambil keputusan yang jauh lebih bijak.
1. Risiko Kehilangan Modal (Capital Loss)
Ini risiko paling dasar, tapi justru sering dianggap “ah, kayaknya nggak akan sampai segitunya”.
Nyatanya, harga aset investasi seperti saham, reksa dana, bahkan crypto bisa turun jauh dari harga beli.
Ketika nilai aset jatuh, kamu bisa kehilangan sebagian besar modal. Dalam kondisi ekstrem, modal bisa hampir habis.
Banyak pemula berpikir, “tenang saja, harga pasti balik lagi”.
Percaya deh, tidak selalu begitu. Ada saham yang turun dan tidak pernah kembali ke harga puncak. Apalagi sampai bisnisnya tutup.
Karena itulah, jangan pernah masuk ke investasi hanya dengan keyakinan “pasti untung”. Dunia investasi tidak bekerja sesederhana itu.
2. Risiko Likuiditas
Risiko ini sering terlewat karena orang hanya fokus pada nilai aset, bukan pada kemudahan menjualnya kembali.
Likuiditas berarti seberapa cepat aset bisa dicairkan menjadi uang tunai tanpa kehilangan nilai signifikan.
Misalnya, kamu punya saham perusahaan kecil yang jarang diperdagangkan. Ketika ingin menjual, ternyata pembelinya minim. Harga pun terpaksa diturunkan agar laku.
Begitu pula dalam investasi di properti. Saat butuh uang cepat, ternyata butuh waktu lama untuk menjualnya.
Di sinilah banyak orang baru sadar, “Waduh, uangnya ada, tapi nggak bisa dipakai”.
Pemula sering lupa menilai likuiditas. Padahal, kebutuhan mendadak bisa datang kapan saja. Sepakat?
3. Risiko Tidak Paham Instrumen Investasi
Ini risiko yang sangat manusiawi: ikut-ikutan.
Ada teman cerita untung di saham, langsung buka akun sekuritas. Ada saudara cerita profit di crypto, langsung beli aset tanpa riset.
Bahkan ada yang masuk investasi hanya karena melihat tren di media sosial. Kedengarannya familiar?
Ketika kamu tidak benar-benar memahami cara kerja instrumen, risiko akan meningkat berkali lipat.
Belajar dulu, baru taruh uang. Jangan dibalik! Uangmu ‘kan bukan daun jatuh dari langit.
4. Risiko Psikologis: Panik dan Serakah
Secara teori, semua orang tahu bahwa sebaiknya beli saat murah, jual saat mahal. Tapi dalam praktik, yang terjadi justru sebaliknya.
Saat harga naik, jadi serakah. Saat harga turun, panik dan buru-buru jual rugi.
Pemula sering meremehkan kekuatan emosi dalam investasi. Padahal, grafik harga itu tidak hanya bergerak di layar, melainkan di kepala dan perasaan pula.
Ada rasa takut tertinggal, cemas, menyesal, sampai stres berkepanjangan.
Mengatur emosi adalah bagian dari manajemen risiko. Tidak semua orang cocok dengan risiko tinggi, dan itu wajar, kok.
5. Risiko Diversifikasi yang Buruk
Banyak pemula merasa sudah diversifikasi, padahal sebenarnya tidak.
Contohnya, semua uang ditaruh di berbagai saham dalam satu sektor yang sama. Bisa juga semua investasi di platform yang berbeda, tapi jenis asetnya tetap satu macam.
Diversifikasi yang buruk membuat risiko tetap terkonsentrasi di satu titik.
Jika sektor atau instrumen itu bermasalah, seluruh portofolio ikut goyang.
Idealnya, diversifikasi bukan hanya jumlahnya, tetapi juga jenisnya. Pastikan beda sektor, beda aset, bahkan beda tingkat risiko.
Intinya sederhana, jangan letakkan semua harapan pada satu keranjang. Kamu tentu tidak mau semuanya jatuh bersamaan, kan?
6. Risiko Salah Ekspektasi
Sebagian besar pemula masuk investasi dengan ekspektasi terlalu tinggi. Entah berharap cepat kaya, dapat return besar dalam waktu singkat, atau percaya janji “profit pasti tiap bulan”.
Ketika realitas tidak sesuai harapan, muncul kekecewaan. Lalu berhenti investasi, bahkan trauma.
Mungkin yang salah bukan investasinya, tetapi ekspektasi yang tidak realistis. Investasi adalah perjalanan jangka panjang, naik-turun itu bagian dari proses. Tidak semua tahun akan indah. Ada fase bosan, stagnan, bahkan rugi. Wajar!
Bersiap Menghadapi Risiko, Bukan Takut
Risiko investasi tidak bisa dihapus, tapi bisa dikelola.
Kuncinya bukan nekat, melainkan paham apa yang dihadapi. Semakin mengerti risiko, semakin matang pula keputusan yang bisa kamu ambil.
Dan itu justru yang membedakan investor pemula yang belajar, dengan mereka yang hanya ikut-ikutan tren.
Kalau kamu ingin membaca pembahasan lain seputar investasi, emiten, UMKM, dan strategi bisnis dengan bahasa yang ringan dan membumi, silakan main ke listen-project.org.
Di sini tempatnya beragam insight menarik yang bisa bantu kamu berpikir lebih jernih sebelum menanamkan uang.


Leave a Reply