Banner BlogPartner Backlink.co.id

Tahukah kamu? Ketika kita membeli saham, sebenarnya kita sedang membeli sebagian kecil dari sebuah perusahaan.

Nah, kalau perusahaannya sehat, biasanya kinerja saham juga lebih stabil dalam jangka panjang. Sebaliknya, kalau perusahaan bermasalah secara finansial, investor perlu ekstra hati-hati.

Yang jadi masalah, tanda-tanda keuangan yang kurang sehat itu tidak selalu diumumkan secara terang-terangan.

Kadang justru terlihat dari “sinyal-sinyal kecil” di laporan dan kebijakan perusahaan. Kamu pernah merasa begitu juga, kan?

Supaya tidak salah langkah, ada baiknya mengenali beberapa tanda emiten yang sedang tidak sehat secara finansial.

Setidaknya 5 poin berikut ini tidak mutlak, tetapi bisa menjadi alarm awal sebelum kamu memutuskan untuk tetap bertahan atau justru menjauh.

1. Laba Turun, Tapi Pendapatan Stagnan

Penurunan laba dalam satu periode saja sebenarnya masih wajar. Bisnis memang naik turun.

Namun, kalau laba turun terus dalam beberapa periode berturut-turut, apalagi dibarengi pendapatan yang juga melemah, ini patut dipertanyakan.

Artinya, perusahaan bukan hanya sedang “terpeleset sesaat”, tapi mungkin menghadapi masalah yang lebih dalam.

Bisa jadi produknya mulai kalah saing, biaya operasional membengkak, atau pasar yang digarap memang sedang menyusut.

Intinya, mesin pendapatan tidak bekerja seefektif dulu.

Banyak investor kadang mengabaikan hal ini karena masih berharap harga saham akan pulih dengan sendirinya.

Padahal, kalau fundamentalnya yang turun, ya pemulihannya sering kali tidak cepat. Bikin sakit kepala, kan?

2. Utang Membesar, Tapi Tidak Diikuti Pertumbuhan

Utang itu tidak selalu buruk, kok. Banyak perusahaan besar justru tumbuh pesat karena berani berutang untuk ekspansi.

Masalahnya, saat utang terus bertambah, tetapi pendapatan dan laba tidak ikut naik sebanding.

Ibarat orang minjam sana-sini, tapi penghasilannya tetap segitu-gitu saja.

Rasio utang terhadap ekuitas (DER) yang makin tinggi bisa menjadi tanda tekanan keuangan. Apalagi jika bunga utang mulai makan porsi besar dari laba. Perusahaan akhirnya sibuk membayar kewajiban, sementara ruang untuk berkembang jadi sempit.

Pada titik tertentu, investor perlu bertanya, utangnya dipakai untuk apa? Benar-benar untuk ekspansi, atau hanya untuk menutup lubang lama?

Kalau jawabannya yang kedua, ya kamu pasti sudah bisa menebak ke arah mana cerita ini berjalan.

3. Arus Kas Operasional Negatif dalam Waktu Lama

Perusahaan bisa saja mencatat laba secara akuntansi, tetapi arus kas dari operasi justru negatif.

Artinya apa? Bisnis di atas kertas terlihat untung, tetapi uang riil yang masuk justru tidak seindah itu.

Kalau kondisi ini terjadi sesekali, mungkin masih bisa dimaklumi karena ada faktor musiman. Namun, kalau arus kas operasional negatif terjadi berkali-kali, itu bisa berarti perusahaan kesulitan mendapatkan kas dari kegiatan utamanya.

Sampai di sini, investor perlu waspada!

Perusahaan sejatinya hidup dari arus kas, bukan hanya dari angka laba yang terlihat cantik di laporan.

Kamu tentu tidak mau pegang saham perusahaan yang “untung di laporan, tapi ngos-ngosan di kas”, iya nggak?

4. Sering Right Issue Buat Bertahan

Perusahaan yang sehat biasanya menghasilkan cukup dana dari operasional untuk membiayai sebagian besar kebutuhan bisnisnya.

Cuma kalau perusahaan terlalu sering melakukan right issue (menawarkan saham baru) atau menambah pinjaman hanya untuk bertahan hidup, itu sinyal bahwa mesin keuangannya tidak berjalan normal.

Kegiatan penerbitan saham atau utang seharusnya dipakai untuk ekspansi, inovasi, atau peluang baru.

Tapi jika tujuan utamanya hanya menutup biaya operasional dan melunasi utang lama, ini jelas bukan kabar baik. Investor lama juga bisa terdilusi karena jumlah saham beredar makin banyak.

5. Perubahan Kebijakan yang Kurang Transparan

Tanda berikutnya bukan hanya soal angka, tapi juga soal sikap perusahaan.

Misalnya, manajemen sering terlambat merilis laporan keuangan, penjelasan mereka ngasal, atau terlalu banyak perubahan mendadak tanpa alasan yang jelas.

Perusahaan yang sehat biasanya ingin menjaga kepercayaan investor lewat transparansi.

Kalau informasi makin tertutup dan komunikasi ke publik memburuk, itu bisa jadi sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak baik-baik saja di dalam.

Tidak semua masalah langsung terlihat di neraca, kok. Kadang “rasa tidak enak” itu muncul dari cara perusahaan bicara ke pemegang saham.

Jadi Investor Perlu Teliti dan Waspada

Lima tanda di atas tentu bukan satu-satunya indikator. Tapi kalau beberapa di antaranya muncul bersamaan, kamu patut ekstra hati-hati.

Investasi itu bukan lomba ikut-ikutan. Lebih baik sedikit telat tapi paham kondisi, daripada cepat-cepat masuk lalu baru sadar perusahaannya sedang sakit secara finansial. Setuju?

Suka membaca lebih banyak bahasan seputar emiten, investasi, strategi bisnis, marketing, dan UMKM?

Yuk, mampir ke listen-project.org. Baca santai saja, pelan-pelan. Semoga bisa membantu kamu mengambil keputusan investasi yang lebih matang ke depannya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *