Banner BlogPartner Backlink.co.id

Membuat business plan sering terasa seperti tugas formal. Harus ada kalau mau urus pendanaan, ikut program inkubasi, atau presentasi di depan investor. Banyak orang akhirnya hanya fokus “yang penting jadi dulu”.

Business plan itu sebenarnya bukan sekadar dokumen. Dia lebih mirip kompas.

Tanpa kompas, kita jalan sih jalan, tapi arahnya ke mana? Belum tentu sampai tujuan.

Menariknya, banyak orang merasa business plan mereka sudah bagus. Rapi, tebal, dan penuh grafik. Namun saat dipakai sebagai panduan, ternyata membingungkan sendiri.

Kenapa bisa begitu?

Biasanya karena ada beberapa kesalahan yang tidak disadari. Coba kita bahas satu per satu!

1. Terlalu Jatuh Cinta pada Ide Sendiri

Ini yang paling sering terjadi. Kita punya ide, rasanya keren sekali.

Sudah terbayang akan dipakai banyak orang, mungkin terasa “wah, kalau ini jalan, mantap banget”.

Tidak salah sih bangga dengan ide sendiri. Yang jadi masalah, ide itu kadang belum tentu dibutuhkan orang lain.

Realitasnya, pasar sering tak seindah bayangan. Ada orang yang tidak mau pindah dari produk lama, sebagian lagi belum merasa perlu, dan ada pula yang tidak punya daya beli.

Jadi, sebelum terlalu jatuh cinta pada ide sendiri, turun dulu ke lapangan. Dengar keluhan orang, amati kebiasaan mereka. Baru setelah itu ide dipoles. Lebih enak begitu, bukan?

2. Proyeksi Keuangan yang Too Good to be True

Di atas kertas, bisnis apa pun bisa terlihat sukses. Tinggal buat grafik naik, tambahkan tabel proyeksi, lalu semua tampak cerah.

Sayangnya, dunia nyata tidak selalu mengikuti tabel Excel kita.

Kesalahan yang sering terjadi adalah membuat proyeksi omzet sangat tinggi tanpa penjelasan yang masuk akal.

Misalnya, penjualan diprediksi naik dua kali lipat tiap tahun. Kedengarannya keren, tapi caranya bagaimana? Apakah tim pemasaran cukup? Produksi kuat? Sudah ada strategi distribusi?

Optimistis itu perlu. Namun kalau semua grafik selalu naik, itu justru mencurigakan. Lebih realistis kalau ada beberapa skenario: bagus, sedang, dan buruk. Dengan begitu, kamu tidak kaget kalau ternyata penjualan tidak sesuai harapan.

Serius, banyak bisnis tumbang bukan karena ide buruk, tetapi karena ekspektasi keuangannya melambung terlalu tinggi. Percaya, deh.

3. Risiko Tidak Ditulis, Padahal Pasti Ada

Setiap bisnis punya risiko. Tidak ada pengecualian. Namun, di banyak business plan, risiko nyaris tidak dibahas. Semua terlihat mulus, seolah tidak akan ada hambatan.

Kenyataannya? Begitu ada masalah, tim langsung panik.

Risiko itu bisa macam-macam bentuknya. Mulai dari regulasi berubah, bahan baku naik harga, kompetitor baru muncul, bahkan konflik internal tim.

Kalau sejak awal sudah dipikirkan, kita bisa menyiapkan langkah antisipasi. Tetapi kalau tidak pernah dibahas, akhirnya semua terasa “mendadak”.

Coba jujur pada diri sendiri, “Kalau penjualan turun drastis, apa rencananya?” atau “Kalau pemasok utama tutup, ada pengganti atau tidak?”

Kalau belum ada jawabannya, berarti business plan masih belum matang.

4. Rencana Eksekusi Kabur, Hanya Berhenti pada Konsep

Ada business plan yang idenya jelas, pasarnya jelas, bahkan angka keuangannya rapi. Eh, saat ditanya, “besok yang dikerjakan apa?”, tim terdiam.

Itu berarti, rencana eksekusinya tidak konkret.

Kalimat seperti “akan melakukan digital marketing” memang enak dibaca, tetapi sayangnya terlalu umum. Platformnya apa? Kontennya bagaimana? Budgetnya berapa? Siapa yang bertanggung jawab?

Tanpa detail tersebut, eksekusi hanya tinggal wacana.

Bisnis bergerak bukan karena ide besar, tapi karena langkah kecil yang dilakukan terus-menerus.

Kadang sederhana, kok. Mana daftar prioritas pekerjaan per bulan, apa target realistisnya, dan bagaimana pembagian peran tim.

5. Kurang Memikirkan Keberlanjutan Jangka Panjang

Banyak business plan fokus ke tahap awal saja. Bikin launching, promo besar, lalu titik impas alias BEP.

Setelah itu bagaimana? Tidak selalu jelas. Padahal bisnis tidak berhenti saat balik modal saja.

Ada hal-hal yang harus dipikirkan sejak awal.

Mulai dari bagaimana produk berkembang, apakah akan ada varian baru, bagaimana menghadapi perubahan tren, sampai bagaimana menjaga tim tetap solid.

Kalau semua hanya berjalan “mengalir saja”, bisnis mudah mandek begitu fase awal euforia berlalu.

Business Plan Lebih dari Dokumen

Business plan bukan sekadar dokumen yang dicetak dan disimpan di map. Ia seharusnya jadi teman perjalanan bisnis. Perlu dibuka lagi, direvisi, bahkan diperdebatkan kalau perlu.

Kalau kamu sedang membuat atau memperbaiki business plan, coba baca ulang dengan tenang. Siapa tahu ada bagian yang perlu dirapikan, ditambah data, atau dipikirkan ulang.

Pelan-pelan saja, yang penting jujur pada kondisi bisnis sendiri.

Tertarik membaca topik lain seputar bisnis, investasi, marketing, dan UMKM? Kamu bisa mengunjungi listen-project.org. Ada banyak pembahasan yang bisa kamu pakai sebagai bahan belajar atau sekadar mendapatkan sudut pandang baru tentang dunia bisnis.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *