Banner BlogPartner Backlink.co.id

Kalau kamu sudah cukup lama berkutat di dunia saham, istilah IPO pasti sudah akrab di telinga. Tapi buat yang masih baru, IPO itu momen ketika sebuah perusahaan pertama kali “dijual” ke publik lewat bursa saham.

Biasanya suasananya meriah. Banyak yang bahas di media, ramai di grup diskusi, dan sering juga muncul anggapan bahwa saham baru IPO itu pasti menjanjikan.

Benarkah selalu begitu? Ya, belum tentu!

Yang sering terjadi justru sebaliknya. Orang terburu-buru beli karena ikut hype, lalu baru sadar kalau risikonya tidak kecil.

Makanya, sebelum kamu memutuskan ikut membeli saham perusahaan yang baru IPO, ada baiknya duduk sebentar, tarik napas, lalu pikirkan beberapa risikonya.

Paling tidak 4 poin di bawah ini layak kamu kenali sejak awal. Biar nggak asal ikut arus, setuju?

1. Harga Saham Bisa “Liar” di Awal

Saham baru IPO itu ibarat panggung musik baru dibuka. Semua orang berdesakan, ramai, dan emosinya campur aduk.

Di hari-hari awal, harga bisa naik tinggi sekali, lalu tiba-tiba jatuh. Kadang naik lagi, lalu turun lagi. Pokoknya, tidak tenang.

Banyak investor pemula tidak siap dengan kondisi ini. Saat harga langsung melesat, mereka buru-buru ikut beli karena takut ketinggalan. Beberapa hari kemudian harga koreksi tajam, panik muncul, lalu bingung harus jual atau tahan.

Pada titik itu barulah terasa bahwa fluktuasi harga tidak hanya soal angka, tapi juga terkait emosi.

Jadi, risiko pertama jelas, yakni pergerakan harga yang sangat tidak stabil.

Coba jujur saja ke diri sendiri, “Aku siap naik-turun begini, nggak?”

2. Fundamental Perusahaan Belum Benar-Benar Teruji

Emiten lama biasanya punya rekam jejak bertahun-tahun. Kamu bisa lihat bagaimana kinerja keuangannya, bagaimana perusahaan menghadapi krisis, apakah labanya konsisten, dan sebagainya.

Emiten baru IPO berbeda.

Informasi yang tersedia biasanya baru sebatas prospektus, laporan keuangan beberapa periode, dan rencana bisnis.

Memang bisa dianalisis, tapi tetap saja belum teruji oleh waktu. Banyak hal masih berbentuk janji dan rencana.

Boleh jadi perusahaannya terlihat sangat keren saat presentasi. Hanya saja, kenyataannya tidak semua rencana berjalan mulus.

Ada yang target pendapatannya jauh dari ekspektasi, sebagian lagi ekspansinya tersendat, dan ada juga yang ternyata kalah bersaing di pasar. Itu hal yang biasa terjadi.

Jadi, kamu perlu sadar bahwa ketidakpastian historis adalah risiko nyata.

Kalau kamu tipe investor yang suka melihat “jejak masa lalu” sebelum memutuskan, emiten baru IPO mungkin akan terasa agak abu-abu.

3. Potensi Aksi Jual dari Pemegang Lama

Ini faktor yang sering luput. Dalam proses IPO, biasanya ada masa lock-up period, yaitu periode di mana pemegang saham lama dilarang menjual sahamnya.

Setelah periode itu selesai, mereka bisa saja menjual sebagian kepemilikan yang dimiliki sejak awal.

Nah, bayangkan kalau yang menjual adalah pemegang saham besar. Jumlahnya jelas tidak sedikit.

Saat saham dilepas dalam volume besar, pasar bisa tertekan. Harga saham ikut turun, dan investor ritel yang baru masuk sering kali kebingungan, “Kenapa turunnya dalam sekali, ya?”

Padahal alasannya sederhana, suplai bertambah banyak dalam waktu bersamaan.

Di sinilah pentingnya membaca informasi prospektus, terutama bagian mengenai lock-up period.

Apakah kamu akan masuk sebelum atau sesudah masa itu berakhir? Banyak yang tidak memperhatikan ini, lalu kaget saat harga bergerak turun.

Bukan pasarnya yang jahat, cuma mekanisme yang memang begitu.

4. Risiko Bisnis Tidak Selalu Terlihat Jelas

Saat IPO, perusahaan pasti menampilkan sisi terbaiknya. Itu normal, kok.

Prospektus berisi rencana ekspansi, peluang pasar, kekuatan perusahaan, dan sebagainya. Namun, kenyataan bisnis di lapangan kadang berbeda.

Ada risiko operasional, persoalan regulasi, perubahan tren konsumen, sampai persoalan manajemen internal. Hal-hal seperti ini sering baru terlihat setelah perusahaan berjalan dalam mode “publik”.

Kadang bisnis ternyata tidak seindah yang dibayangkan di proposal.

IPO tidak otomatis berarti “pasti sukses”. Status IPO hanya berarti perusahaan sudah melantai di bursa, titik. Selebihnya tetap kembali ke kinerja nyata.

Yang Penting Jangan Terburu-Buru

Berinvestasi pada emiten yang baru IPO memang seru.

Ada rasa penasaran dan terselip peluang keuntungan, tapi jangan lupa ada pula risiko yang harus diterima dengan sadar.

Poin-poin di atas tidak bermaksud menakut-nakuti, kok. Tujuannya hanya satu, kamu masuk pasar modal dengan kepala dingin, bukan sekadar FOMO tren.

Kalau kamu ingin membaca lebih banyak topik tentang investasi, emiten, strategi bisnis, marketing, dan UMKM, mampir saja ke listen-project.org.

Di sini tempatnya berbagai artikel yang bisa kamu baca santai sambil ngopi, siapa tahu membantu kamu jadi investor yang lebih matang.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *